JAPAS Bersama Om Pinot: Menelusuri Sejarah di Gunung Batu

 

Di Makam Marah Roesli

Mengunjungi dua lokasi komplek pemakaman di kawasan Gunung Batu, Bogor bersama Om Pinot, saya dan rombongan peserta JAPAS (Jalan Pagi Sejarah) diajak bukan saja untuk mendalami jejak perjuangan tokoh-tokoh terkemuka bangsa, tapi benar-benar menghayati perjalanan hidup tokoh yang diziarahi sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan jejak yang telah ditorehkannya. Bakti dan sumbangsih mereka patut menjadi penghayatan agar menjadi suri tauladan.

Pada 17 Juni 2024, rute JAPAS membawa kami ke makam Pangeran Harjo Dipomenggolo dan Pangeran Abdul Manar Dipomenggolo, dua sosok penting yang tidak dapat dipisahkan dari kisah heroik Pangeran Diponegoro. Pangeran Diponegoro mengobarkan Perang Jawa, perang besar yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830) di Pulau Jawa melibatkan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Hendrik Merkus de Kock yang berusaha meredam perlawanan penduduk Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. Akibat perang ini, penduduk Jawa yang tewas mencapai 200.000 jiwa, sementara korban tewas di pihak Belanda berjumlah 8.000 tentara Belanda dan 7.000 serdadu pribumi. Akhir perang menegaskan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa.

Pangeran Harjo Dipomenggolo dan Pangeran Abdul Manar Dipomenggolo adalah anak Pangeran Raden Mas Djonet, putra Pangeran Diponegoro. Keberadaan mereka di Bogor menyisakan cerita dan kisah panjang, memunculkan nama Pasir Kuda dan Jabaru yang sekarang menjadi legenda dan menyimpan sejuta kisah menarik.

Identifikasi Pangeran Harjo Dipomenggolo sebagai "Abah Kulon" dan Pangeran Abdul Manar Dipomenggolo (atau Abdul Manaf) sebagai "Abah Wetan" dari sumber lisan masyarakat disebabkan masing-masing lahir dari rahim ibu yang berbeda, dari dua istri yang dinikahi oleh Pangeran Raden Mas Djonet selama di pengasingan, di Wetan dan di Kulon. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa keduanya adalah anak dari istri pertama, Nyi Mas Ayu Fatimah (Tan Bun Nio), putri Tan Oie Koo, Kapiten China di Buitenzorg.

Pangeran Harjo Dipomenggolo, disebut Abah Kulon di makamnya, adalah sosok penting yang menghubungkan trah Jawa dari Kesultanan Yogyakarta yang berada di pengasingan di Buitenzorg dengan trah menak Sunda. Keturunannya melahirkan para pemimpin dan pemangku adat Sunda, termasuk para Bupati Bogor dan tokoh terkemuka lainnya. RAy Ayu Gondomirah, puteri Pangeran Harjo Dipomenggolo, menikah dengan Raden Tumenggung Adipati Suradimenggala yang menjabat sebagai Hoofd Djaksa Buotenzorg (1866-1876) dan Bupati Bogor ke-19 (1876-1884).

Raden Tumenggung Adipati Suradimenggala adalah putera Patih Bogor Raden Rangga Candramenggala, anak Patih Bogor Dalem Raden Soerialaga II, yang namanya diabadikan sebagai nama ruas jalan di Bogor. Makam RAy Gondomirah dan suaminya berada dalam komplek pemakaman trah keturunan Raden Adipati Soerialaga I, satu area dengan Masjid Jami'i Al-Huda di Jalan R.E. Abdullah. Di antara tokoh penting dalam komplek pemakaman ini adalah R.E. Abdullah bin Raden Natadipura, Bupati Bogor di masa Revolusi Kemerdekaan, dan sastrawan besar Indonesia, Marah Roesli.


Iklan pemutaran film Siti Nurbaya 

Marah Roesli, kelahiran Padang, Sumatera Barat, 1889, adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka yang terkenal dengan karya roman fiksinya "Siti Nurbaya". Karya tersebut sudah diangkat menjadi film layar lebar pada masa Hindia Belanda tahun 1941, dan populer sebagai sinetron di televisi Indonesia yang diperankan oleh Novia Kolopaking dan HIM Damsyik.

Orang tua Marah Roesli berasal dari keluarga bangsawan Pagaruyung dengan gelar Sutan Pangeran, sedangkan ibunya berdarah Jawa, keturunan Sentot Alibasyah, panglima perang Pangeran Diponegoro. Hubungan dari garis ibunya mempertemukan jodoh Marah Roesli dengan istrinya, Raden Ratna Kentjana, puteri Raden Kartadjoemena, putera Raden Tumenggung Adipati Suradimenggala dari pernikahannya dengan RAy Gondomirah. Makam Marah Roesli berdampingan dengan istrinya di komplek pemakaman tersebut.

Kunjungan ini mengajarkan kami untuk menghargai dan mengenang jasa para tokoh yang telah berkontribusi besar dalam sejarah bangsa, menginspirasi generasi muda untuk meneladani perjuangan dan dedikasi mereka.

Abdullah Abubakar Batarfie




Posting Komentar untuk "JAPAS Bersama Om Pinot: Menelusuri Sejarah di Gunung Batu"