Gardu Listrik Tertua di Depok: Saksi Bisu Sejarah Kota


Di balik hiruk-pikuk Stasiun Depok Lama, berdiri sebuah bangunan tua yang menjadi saksi perjalanan panjang kota ini: gardu listrik bertegangan tinggi yang telah berumur lebih dari seratus tahun. Gedung gardu traksi tersebut berdiri dan diresmikan sekitar tahun 1930 dengan nama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA). Namun, sebelum diresmikan, tepatnya saat zaman penjajahan Belanda, operasi kereta kala itu rata-rata masih menggunakan uap. Meski demikian, pihak PLN yang mengoperasikan pelistrikan kereta saat itu tetap menyediakan tenaga listrik, karena sudah ada beberapa kereta listrik yang beroperasi bersamaan dengan kereta uap,” ujar Ibu Ratu Farah Diba dari Depok Heritage.

Bangunan ini bukan sekadar struktur beton tua, tetapi juga bagian dari sejarah perkembangan infrastruktur listrik di Depok. Sabtu pagi yang cerah, Ibu Ratu Farah Diba mengajak peserta Jalan Pagi Sejarah (JAPAS) menelusuri setiap sudut gardu ini, mengungkap kisah yang tersembunyi di balik dindingnya yang kokoh namun mulai dimakan waktu. Dinding belakang gardu ini masih menyimpan papan peringatan berbahasa Belanda, Melayu, dan Sanskerta yang memperingatkan bahwa siapa saja yang nekat masuk ke dalamnya berisiko hangus terbakar akibat sengatan listrik.

Kini, gardu ini sudah tidak lagi berfungsi sebagai pusat distribusi listrik. Fungsinya telah dialihkan sebagai ruang petugas dan operator Commuter Line, sementara gardu baru telah dibangun di lokasi yang berbeda dalam area yang sama. Namun, cerita yang mengalir dari Ibu Farah membuat bangunan tua ini seolah kembali bertenaga. Seperti sebuah trafo penurun daya, kisahnya membuat tegangan sejarah yang tinggi dapat dinikmati tanpa menyengat.

Stasiun Depok dan Perannya di Masa Lalu

Tak hanya membahas gardu, Ibu Farah juga membawa peserta menyelami sejarah Stasiun Depok. Pada masa kolonial, stasiun ini hanyalah sebuah halte kecil tempat naik-turun penumpang. Stasiun utama yang memiliki peran penting dalam angkutan hasil pertanian masyarakat Depok justru adalah Stasiun Citayam. Di masa itu, hasil bumi dari perkebunan dan pertanian di sekitar Depok lebih banyak diangkut melalui Citayam ke Batavia.

Stasiun Depok Tempo Doeleo
Foto diambil dari google

Menariknya, nama "Citayam" ternyata tidak berasal dari awalan "Ci" yang biasanya ditemukan dalam penamaan sungai di Jawa Barat. Sebaliknya, nama ini diyakini berasal dari angka tujuh dalam bahasa Mandarin, "cit." Hal ini berkaitan dengan keberadaan komunitas Tionghoa yang sejak lama telah bermukim dan berniaga di sekitar Depok, termasuk di wilayah Pondok Cina. Konon, angka tujuh ini merujuk pada aturan yang berlaku di masa lalu, di mana para pedagang Tionghoa baru diperbolehkan masuk dan berdagang di tanah Depok mulai pukul tujuh pagi. Aturan ini mencerminkan kontrol yang ketat terhadap aktivitas ekonomi komunitas Tionghoa di daerah tersebut.

"Belanda Depok" dan Identitas Keturunan kaum mardijekers  

Salah satu cerita menarik yang membuat peserta JAPAS berdecak kagum adalah asal-usul istilah "Belanda Depok." Istilah ini mulai populer setelah kemerdekaan dan merujuk pada bekas budak yang dipekerjakan oleh Cornelis Chastelein dan kelak kemudian mereka di merdekakan dengan sebutan kaum mardijekers. Meskipun secara etnis mereka adalah 100 persen pribumi, mereka tumbuh dengan budaya dan bahasa Belanda karena warisan Chastelein yang menjadikan Belanda sebagai bahasa utama dalam komunitasnya. 

Fakta ini sering kali membuat mereka diolok-olok oleh warga Bogor saat menaiki kereta api. Dengan wajah yang khas Nusantara tetapi berbicara dalam bahasa Belanda, mereka pun dijuluki "Belanda Depok." Sebutan ini bukan sekadar ejekan, tetapi juga mencerminkan perbedaan budaya yang terbentuk selama ratusan tahun di komunitas Depok Lama.

Depok Lama vs. Depok Baru: Transformasi Kota

Lebih lanjut, Ibu Farah menjelaskan bahwa istilah "Depok Lama" dan "Depok Baru" mulai muncul setelah era Orde Baru, seiring dengan pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) yang membentuk wajah baru kota ini. Depok yang awalnya dikenal sebagai komunitas kecil dengan sejarah panjang, mulai bertransformasi menjadi kota metropolitan yang padat penduduk dan berkembang pesat.

Sementara itu, asal-usul nama "Depok" sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Salah satu versi yang cukup populer menyebutkan bahwa "Depok" adalah akronim dari bahasa Belanda, De Eerste Protestants Onderdaan Kerk, yang berarti "Gereja Kristen Rakyat Pertama." Istilah ini diyakini berkaitan dengan sejarah Depok sebagai pusat penyebaran agama Kristen oleh Cornelis Chastelein pada akhir abad ke-17.


Menapaktilasi Jejak Sejarah di Tengah Modernisasi

Perjalanan JAPAS kali ini bukan sekadar menapaktilasi bangunan tua, tetapi juga merasakan denyut sejarah yang masih hidup di tengah modernisasi Depok. Setiap sudut kota ini menyimpan kisah yang menanti untuk terus diceritakan. Dari gardu listrik yang kini tak lagi dialiri daya hingga cerita para "Belanda Depok" yang fasih berbahasa Olanda, semuanya menjadi bagian dari warisan sejarah yang tak boleh dilupakan.

Depok bukan sekadar kota satelit Jakarta. Ia adalah kota dengan jejak panjang sejarah yang harus terus dihidupkan agar tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga inspirasi bagi generasi mendatang.

Bogor, 24 Febuari 2025

Abdullah Abubakar Batarfie

Galeri foto Japas


Posting Komentar untuk "Gardu Listrik Tertua di Depok: Saksi Bisu Sejarah Kota"