Tradisi Takbiran dan Perajin Kulit Keluarga Tambi Maricar di Kampung Arab Empang
Malam takbiran di Kampung Arab Empang selalu syahdu dan semarak. Suara takbir menggema dari masjid dan langgar, berpadu dengan dentuman beduk dan dulag yang bertalu-talu, menciptakan suasana penuh haru dan kegembiraan. Tradisi ini telah mengakar dalam kehidupan masyarakat setempat, meski terdapat perbedaan pandangan dalam pelaksanaannya. Kaum Al-Irsyad, sebagai ormas Islam modernis, membatasi takbir hanya pada waktu yang disunnahkan—dari selepas shalat Subuh hingga menjelang shalat Ied. Sementara sebagian lainnya menganggap takbir keliling sebagai syiar Islam yang patut diramaikan, menjadikan malam terakhir Ramadan sebagai perayaan yang tak terlupakan.
Di balik kemeriahan takbiran, ada peran besar keluarga Tambi Maricar, keturunan India Muslim yang telah turun-temurun menjadi perajin kulit di Empang. Sejak lebih dari seabad lalu, mereka mengolah kulit kambing untuk berbagai keperluan, salah satunya adalah pembuatan dulag—alat tabuh khas yang menjadi bagian penting dalam perayaan takbiran. Proses pembuatannya tidaklah sederhana. Kulit-kulit kambing itu harus direndam, dijemur di bawah terik matahari, lalu direntangkan di atas drum besi bekas minyak dan dikencangkan dengan tali rotan agar menghasilkan suara nyaring saat ditabuh.
Sejak masa kolonial Belanda, nama Ali Wafu termasuk yang tersohor sebagai pengusaha kulit yang kemudian diteruskan para penerusnya, termasuk oleh menantunya pada era 1950-an yaitu Muhammad Sultan Nur Maidin, seorang peranakan India asal Singapura. Ia melanjutkan tradisi sebagai pengusaha kulit dan mengelola pangkulitan tempat atau tempat menjemur kulut yang dahulu pernah ada di nusa, sebuah delta kecil di dekat bendungan Pulo Empang. Dari sanalah dulag berkualitas tinggi diproduksi, menghidupkan ekonomi lokal dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kampung.
Rumah keluarga Tambi Maricar berada di tepian Sungai Cipakancilan, menjadi saksi bisu aktivitas mereka setiap menjelang Idul Fitri. Para pengrajin bekerja tanpa lelah, memastikan dulag siap digunakan. Anak-anak mereka, dengan penuh semangat, mencoba alat musik tradisional ini, membiarkan suara khasnya menggema di antara riuh rendah takbiran. Bagi mereka, dulag bukan sekadar alat tabuh, melainkan warisan budaya yang harus dijaga.
Demo penjual Dulag di EmpangBerbeda dengan beduk yang ditempatkan di masjid sebagai penanda waktu salat, dulag khusus digunakan untuk meramaikan malam takbiran. Ukurannya lebih kecil, lebih ringan, dan lebih mudah dibawa dalam arak-arakan. Ia bukan sekadar instrumen, tetapi juga simbol persatuan, semangat, dan kebanggaan komunitas.
Seiring waktu, tradisi ini bukan hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian. Keluarga Tambi Maricar terus menjaga keahlian mereka, memastikan bahwa setiap lembar kulit yang mereka olah akan menghasilkan dulag yang menggema setiap malam takbiran. Selama masih ada tangan yang menguliti, menjemur, dan merentangkan kulit kambing, suara dulag akan terus berkumandang, mengiringi takbir yang syahdu di malam kemenangan.
Posting Komentar untuk "Tradisi Takbiran dan Perajin Kulit Keluarga Tambi Maricar di Kampung Arab Empang"
Posting Komentar